Sinopsis Endless Love Episode 3

Rabu, 31 Oktober 2012
Eun Suh memulai hidup barunya di keluarga Choi. Berbeda dari sebelumnya, ia hanya memakai pakaian sederhana dan sarapan dengan sisa sup jualan. Eun Suh memperhatikan kakaknya yang lahap menyantap sup tulang sapi, sedangkan ia sendiri serasa tidak sanggup menyantap makanan sisa seperti itu.
Nyonya Choi memperhatikan Eun Suh,Eun Suh merasa bersalah dan dengan senyum ia elahap makanan yang ada di deapnnya. Poor Eun Suh T_T
“hey kurang ajar kau! Jangan kembali ke sini lagi” nyonya Choi kesal dan mengejar kakak Eun Suh yang lari mengambil uang nyonya Choi. Eun Suh yang sedang mengangkat air juga ditabrak oleh kakaknya yang memang berandalan.
 
Nyonya Choi melihat Eun Suh mengangkat air di tengah gerimis, ia antara tidak tega dan malu mengungkapkan perasaannya “siapa yang menyuruhmu mengangkat air? Biar aku saja! Kau tidak bisa apa – apa ”
“tidak apa – apa i...”
“sudahlah, kalau kau tidak bisa memanggilku ibu, cukup panggil aku bibi saja”
“hei nyonya Choi.. ada telpon untukmu. Kau ini memberatkan saja, sudah kubilang jangan memberi nomor telpon rumah kami” tetangga nyonya Choi kesal
Eun Suh duduk sendirian sedangkan nyonya Choi pergi menemui seseorang. 2 lelaki paruh baya datang dan memesan sup “hei gadis kecil,apa ibumu tidak ada? Apa kau bisa menghidangkan sup?”
“tentu saja, silahkan duduk tuan” kata Eun Suh semangat
Sementara itu.. nyonya Choi ternyata menemui ibu (mulai sekarang kita ganti jadi nyonya Yoon). Nyonya Yoon memohon dengan wajah meminta belas kasihan dari nyonya Choi “kumohon, kembalikan EU Suh padaku, aku tidak tahu harus bagaimana tanpa dia”
Nyonya Yoon menceritakan kalau ia dan keluarga akan segera pindah ke Amerika dan akan kembali untuk waktu yang lama. Ia memohon agar bisa mengurus Eun Su dan Shin Ae. “aku tau aku serakah tapi kumohon, kumohon... kumohon berikan aku kesempatan untuk membesarkan Eun Suh juga, biarkan aku membesarkannya hingga masuk ke perguruan tinggi dan pulang dari Amerika. Aku idak sanggup membayangkan Eun Suh bisa mendapat pendidikan layak jika ia tinggal bersama an...” nyonya Yoon menghentikan ucapannya
Nyonya Yoon mengambil amplop dan menyerahkannya ke nyonya Choi sebagai tanda penghargaan membesarkan Shin Ae. 
“jika kau membiarkanku membesarkan Eun Suh aku akan berikan apapun”
“apa kau bersedia memberikanku seluruh kekayaanmu jika aku mengembalikan Eun Suh?”
“maaf?”
Nyonya Choi kesal dan melempar amplop itu ke muka nyonya Yoon, “kau pikir aku apa? Oh..apa hanya segini harga Shin Ae dan Eun Suh?”
Di kedai...
 
2 pelanggan marah – marah karena porsi supnya lebih sedikit dari biasanya. Ia lalu memaksa Eun Suh untuk menyanyidan menari serta menuangkan minuman untuk mereka (biasanya hal ini dilakukan oleh wanita – wanita “pekerja”).
Eun Suh ketakutan dan nyonya Choi kebetulan melihatnya. Nyonya Choi memukul pintu dengan keras dan menyeret Eun Suh keluar.
“ibu...” Eun Suh meneteskan air matanya melihat Nyonya Yoon. nyonya Yoon dan Eun Suh larut dalam kesediahn dan saling berpelukan, dari jauh nyonya Choi memandangi mereka sedih.
“apa kau baik – baik saja?” Ibu masih terus memeluk Eun Suh
“ibu....ibu...” Eun Suh makin menangis
Nyonya Choi mendekat sambil emnahan kesedihannya “bawa dia! Bawa anak itu pergi dari sini, dia tidak tau mengerjakan apapun! Dia akan merepotkanku! Bawa dia!”
Eun Suh terkejut mendengar itu sementara nyonya Yoon berterima kasih dan menitihkan air mata.
Nyonya Choi pergi dan diam – diam menangis,
“Eun Suh..ayo kita pulang nak”
“ibu..maafkan aku..aku tidak bisa pergi bersama ibu..maaf ibu... aku bukan putri ibu lagi, tempatku di sini”
“Eun Suh..apa yang kau bicarakan?”
“ibu..aku tidak apa – apa... aku senang di sini..” Eun Suh seketika mengejar nyonya Choi danberteriak memanggilnya IBU
 
“ibu..ibu..tunggu aku”
Eun Suh memeluk ibu kandungnya dan menangis “maafkan aku ibu..maafkan aku ibu..aku yang salah..aku yang salah...”
“Eun Suh..” nyonya Choi bercucuran air mata memeluk Eun Suh,sedangkan nyonya Yoon dari jauh menitihkan airmata melihat keduanya.
Pagi hari di sekolah...
Shin Ae memamerkan makanannya ke teman – teman sekelas, sekarang gilirannya menyombongkan bekal cantiknya. Teman Shin Ae mengolok – olok Eun Suh dan Kang Hee dengan mengajaknya ikut mencicipi makan siang Shin Ae.
Eun Suh membuka kotak makan siangnya. Kang Hee menahan tangisnya dan bertanya makanan apa itu.. Shin Ae dengan wajah BANGGA menjelaskan kalau itu daging sisa sup di kedai.
Eun Suh menarik nafas...”mari makan~” dan melahap makananya sambil tersenyum (that’s good..syukuri apa yang ada)
Jun Suh menunggu Eun Suh di depan sekolah, Eun Suh emnaydarinya dan berlari menghindarinya. “baiklah, kakak tidak akan mengikutimu...jangan lari, nanti kau terjatuh”
Jun Suh mendekati Eun Suh dan mengajaknya jalan – jalan “ayo kita ke pantai”
Eun Suh dan Jun Suh berjalan mengikuti arah rel, Jun Suh mengingat kalau sebentar lagi ulangtahun Eun Suh
“kak, ada satu hal yang kusesali karena pergi dari rumah. Aku lupa membawa jam tangan hadiah darimu saat aku berulangtahun ke 14”
“kau mau jadi apa jika terlahir kembali?”tiba – tiba Jun Suh bertanya
“Pohon..aku ingin menjadi pohon” kata Eun Suh
“Pohon?”
“mm..sekali aku menancapkan akarku..aku tidak akan pindah kemana – mana. Aku ingin jadi pohon!”
Eun Seuh menahan tangisnya...ia bilang kalau dirinya bukan lagi adik Jun Suh, “aku sudah mengucapkan selamat tinggal pada ayah..ibu..dan sekarang giliran kakak. Anyeong Oppa... pura – puralah tidak mengenalku,maka aku juga bisa berpura – pura tidak mengenal kakak” Eun Suh berlari sambil menangis meninggalkan Jun Suh.
Pagi hari di rumah Eun Suh.. “selamat ulangtahun, Eun Suh ^^” Eun Suh menyelamati dirinya sendiri.
Sementara itu, di rumah Shin Ae...ia untuk pertama kalinya merayakan ulangtahun, meniup lilin, memotong kue,dan mendapatkan hadiah
“bu..apa aku boleh mengundang semua teman sekelasku?”
“boleh...silahkan saja” kata Ayah
“bagaimana dengan..Eun Suh?” kata Ibu
Jun Suh mengingatkan kalau Eun Suh juga ulangtahun di hari ini, ayah lalau menyarankan agar Eun Suh merayakan ulangtahunnya disini dan makan malam bersama sebelum mereka pindah ke Amerika “tidak apa – apa kan, Shin Ae?”
“iya” Shin Ae terpaksa menjawab, ia masuk ke kamar dan menggerutu kenapa semua orang selalu men-eluh – eluhkan Eun Suh. Jun Suh datang dan memberinya kado jam tangan.
“boleh kuambil ini?” kata Jun Suh mengambil jam tangan biru,kado ulangtahun ke 14 Eun Suh
Shin Ae kesal karena kakaknya seperti menyogoknya, ia dengan senyuman sinis lalu berinisiatif agar ia saja yang menyerahkan jam itu pada Eun Suh.
Di kelas.. suasana sudah gempar karena Shin Ae pamer mengundang seluruh kelas dan akan mengadakan pesta  di taman rumahnya. Eun Suh hanya diam dan melihat jam tangan miliknya sudah berada di lacinya. “terimakasih kakak” gumamnya sementara Shin Ae dengan sinis meliriknya
Kelas berikutnya dimulai dan Shi Ae tiba – tiba menangis karena jam tangan pemberian kakaknya hilang.
Seluruh kelas diperiksa, ibu guru hendak memeriksa tas Eun Suh tapi Eun Suh bersikeras tidak mau diperiksa. Tasnya lalu jatuh dan jam tangan biru pun juga jatuh.
Eun Suh,Jun Suh, dan Shin Ae dipanggil ke ruang guru. Shin Ae dengan dramatisnya berusaha membela Eun Suh “sudahlah bu guru, kalau aku tahu Eun Suh yang mengambilnya aku tidak akan mempermasalahkannya”
Eun Suh tidak menyangka kalau Shin Ae berani memfitnahnya, Jun Suh juga kesal karena tidak bisa berbuat apa – apa. Susah menjelaskan kalau itu milik Eun Suh...
Eun Suh dihukum duduk di ruang guru sambil memegang tulisan besar “AKU BERBOHONG”. Dengan bercuuran air mata, Eun Suh tidak pulang kerumah dan menulis di papan tulis kalau ia tidak berbohong.
Jun Suh datang dan mencoba menghiburnya. Eun Suh kesal dan menyuruh Jun Suh pura – pura tidak emngenalnya.
“baiklah. Ini pertama kali kita bertemu.. Hai! Namaku Jun Suh.. maukah kau berteman denganku..wah~ kau terlihat sangat cantik ^^” Eun Suh sedikit terhibur dengan lelucon Jun Suh.
“kakak..aku tidak berbohong..aku tidak mencurinya”
“aku percaya padamu, tidak mungkin kau mencurinya”
“terimakasih kakak, aku tenang kalau kau mempercayaiku”, Jun Suh lalu mengajak Eun Suh  ke pantai dan merayakan ulangtahunnya.
Mereka menghabiskan waktu seharian bermain di pantai.. Jun Suh lalu menggambarkan sketsa wajah Eun Suh di pasir
“apa ini aku? Kenapa aku jelek sekali?”
“ini kan memang kamu ^^” goda Jun Suh
Jun Suh lalu memberikan kado Eun Suh gelas miliknya, “kau membawa gelasmu pergi, kau pasti kesepian..jadi bawa gelasku bersamamu”
Malam mulai tiba...
Eun Suh menanyakan kapan kakaknya akan pindah ke Amerika, “kak.. apakah kakak akan lama? Kapan kakak akan pulang?” Eun Suh mulai meneteskan airmata
 
“jika kalian pergi,aku akan berpura – pura tidak pernah mengetahui kalian, ah~ ini pasti akan sangat berat bagiku.aku akan berusaha..., kakak...bagaiamana jika kau melupakanku? Bagaimana jika kau tidak mengingat wajahku lagi?”
Jun Suh tidak sanggup menahan kesedihannya “aku akan selalu mengingat Eun Suh..walaupun aku lupa segalanya..aku pastikan aku akan mengingat kalau aku punya adik yang  ingin jadi POHON ketika ia dilahirkan kemabali, sebuah pohon...”
Di sekolah..
Bu guru mengumumkan kalau hari ini Shin Ae dan kluarganya pindah ke Amerika dan kelas akan memilih ketua kelas baru.
Mendengar hal tersebut Eun Suh kaget dan keluar dari kelas.
Eun Suh berlari menuju rumah lamanya, ia berharap masih bisa melihat ayah,ibu dan kakaknya. Eun Suh terus berlari dan mengejar mobil keluarga Yoon, ia berhenti di depan terowongan..dengan wajah lesu dan banjir air mata memandangi mobil keluarga Yoon pegi
 
“ayah..ibu...kakak... selamat tinggal” (sumpah...instrument musiknya bikin NANGIS BOMBAY..ampun Hyo Rin..AMPUNN T___T)
Beberapa tahun kemudian...
Seorang lelaki tampan berjalan menyusuri terowongan, bernostalgia saat ia dan adik perempuannya bebroncengan menyusuri terowongan itu. Yup! Dia Jun Suh
Jun Suh meminjam sepeda dan berkeliling di kampung halamannya, ia pergi ke tempat yang dulunya pernah ia habiskan bersama Eun Suh.
“tuan, apakah tuan kesini lagi untuk mencari adik tuan?” tanya seorang gadis yang ternyata penghuni baru rumah lama Eun Suh
“ya, aku belum menemukannya”
“aku dengar kalau keluarga mereka hidup susah di Seoul dan sekarang pindah entah kemana”
Seseorang lalu menelponnya, ternyata ia adalah Yumi “apa kau sudah bertemu dengan cinta pertamamu?”
“belum,aku masih mencarinya”
“pastikan kau pulang dan menghadiri acara kita besok ^^”
“tentu”
Lain lagi di sebuah Hotel...
Para wanita housekeeping asyik menguping pembicaraan penghuni kamar. Seorang wanita tiba – tiba datang dan memutuskan obrolan. Seseorang menelpon wanita tersebut
“halo,saya Choi Eun Suh, pelayan di housekeeping centre.ada yang bisa saya bantu” ternyata dia Eun Suh
Orang yang menelpon Eun Suh ternayat orang yang obrolannya di dengarkan oleh teman – teman Eun Suh tadi.. Hong Tae Sung.
Eun Suh berpura – pura menjadi wanita 37 tahun dan Tae Sung percaya, sejak beberapa hari ini memang Tae Sung suka mengobrol dengan bibi Choi (panggilan Tae Sung untuk Eun Suh).
Eun Suh mengayuh sepedanya melewati Tae Sung, tentu saja mereka tidak kenal satu sama lain.
FLASHBACK
Beberapa waktu lalu Tae Sung kesal karena seseorang mengusiknya, orang itu tidak suka dengan tae Sung yang suka menghamburkan uang dan melakukan hal sesukanya. Hong Tae Sung sebenarnya adalah anak orang kaya dan berpengaruh, ayahnya memiliki perusahaan besar dan salah satu kekayannya adalah hotel ini.
Tae Sung dipaksa bekerja oleh orang itu, tai Tae Sung menolak dan membuat orang itu menamparnya.
Tae Sung yang kesal,minum - minum merasa kamarnya terlalu pengap, ia menelpon Houskeeping centre dan protes. Eun Suh yang menerima telponnya lalu berpura – pura menjadi bibi – bibi. “kalau anda ingin kamar anda sejuk..silahkan berjalan ke arah sebelah kiri...pegang shower di sebelah kanan anda dan tekan tombol di jari anda” seketika ai mengucur dan membuat  tae Sung kesal
“apa yang kau lakukan?”
“kau tidak tau berbicara dnegan siapa? Aku lebih tua daripada kamu, aku  wanita 37 tahun dengan 2 orang anak!”
FLASHBACK END
Eun Suh dengan sepedanya tidak sengaja berpas – pasan dengan Jun Suh, tapi sayang...mereka tidak saling bertatapan dan tidak kenal satu sama lain.
Jun Suh datang menemui Tae Sung yang ternayata teman kuliahnya saat di Amerika. Jun Su bilang kalau keluarganya akan kembali ke sini karena ia akan segera bertunangan dengan Yumi.
Tae Sung mendengar hal itu tentu saja senang, apalagi Yumi juga teman mereka sewaktu kulaih di jurusan Seni. “apakah Shin Ae juga akan pulang ke sini?” Tae Sung sepertinya khawatir! Hahahaha
Malamnya..Jun Suh tidak bisa tidur dan terus memikirkan Eun Suh, Tae Sung menemaninya.
“apa kau sudah menemukannya?”
“belum..”
“sebenarnya siapa dia?”
“dia adikku..adik diluar keluargaku sekarang”
“aku juga anak luar di keluargaku” Tae Sung bercanda,... Tae Sung benar anak luar alias anak hasil selingkuhan ayah dan ibunya,dan itu menjadi masalah ketika saudaranya dari istri sah ayahnya selalu memandangnya sebelah mata.
Tae Sung mengantar Jun Suh kembali ke Seoul. Tae Sung pergi ke ruang housekeeping centre dan bertanya apakah ada bibi – bibi yang bekerja di sini. Tae Sung kesal setelah tau ternyata tidak ada bibi berusia 37 tahun yang bekerja di sini, dia telah ditipu oleh Bibi Choi.
Sementara itu, Yumi dan Jun Suh ada di ruang rias. Mereka mengobrol bersama, dan ternyata yumi juga pernah ditanyai jika ia terlahir kembali akan menjadi apa, Yumi menjawab dengan jawaban yang sama milik Eun Suh.. POHON
 
Tae Sung punya ide,kebetulan ponsel Jun Suh tetringgal di mobilnya, ia memanfaatkannya.
Tae Sung menyambungkan ponsel Jun Suh ke telpon layanan kamarnya lalu dengan ponselnya ia menelpon ke ponsel jun Suh yang sudah tersambung ke houskeeping centre. Sambil berbasa basi dengan bibi CHoi... Tae Sung bergegas menuju ruang Housekeeping centre.
“ah~ ternyata kau bibi Choi?” Tae Sung senyum sini melihat Eun Suh.
“jadi seperti apa cinat pertamamu?” tanya Yumi yang juga bersamaan dengan pertanyaan Tae Sung pada Eun Suh “ siapa kamu sebenarnya?”
“Pohon”kata Eun Suh yang juga bersamaan dengan jawaban Jun Suh “POHON”
 
 

5 komentar:

Nuraeni kimelan mengatakan...

Good hyo rin, lnjutkan...

Suzan Afianty mengatakan...

wuhuuuuuyy lanjut episode 4 :)

isack banthang mengatakan...

buset dah lw bikin blog sembrawut banget,,episode loncat2,,pusing gw....

Nur fajri Sali mengatakan...

makis sedih .. tp tmbah snang ..

Nur fajri Sali mengatakan...

makis sedih .. tp tmbah snang ..

Posting Komentar