Sinopsis Warrior Baek Dong Soo episode 6

Selasa, 30 Juli 2013

Di provisi Pyeongan, salah satu prajurit memberitahu putra mahkota kalau ia menerima surat dari Istana. Surat itu memberitahukan kalau duta dari Qing merasa tersinggung karena keberadaan putra mahkota di sini yang notabene adalah daerah perbatasan langsung dengan Qing.

Putra mahkota memang berada di Pyeongan dan Hangmyeondo untuk inspeksi, dan kedua daerah ini adalah daerah yang berbatas langsung dengan Qing. Semakin lama putra mahkota berada di sini, semakin besar kecurigaan pihak Qing dan ini akan menambah parah isu Noron untuk memprovokasi Qing.
Putra mahkota berbicara dengan Ji Sun kalau ia tidak enak karena Ji Sun baru saja pulang dari Qing dan sekarang ia memberinya masalah lagi.
“lokasi daerah Qing sma dengan apa yang ada dalam buku perang”
“apakah itu masih berguna? Buku itu sudah berumur ratusan tahun” kata putra mahkota
Ji Sun bilang kalau masalah berguna atau tidak itu masalah lain. Yang jadi masalah sekarang adalah ia masih ragu terhadap buku tersebut. “aku akan memberitahu yang mulia ketika aku sudah bisa memastikan”
“kalau begitu berikan aku jawaban bagus nantinya”
Putra mahkota sudah mau pergi dan berpesan pada Ji Sun kalau rombongan pedagang dari Qing akan sampai dan Ji Sun akan ikut bersamanya. “aku sudah menyuruh beberapa orang untuk menjagamu agar tetap aman sampai tujuan, jangan khawatir tentang keselamatanmu”
“emosi ketakutan sudah kutinggalkan sejak lama Yang Mulia, yang paling kukhawatirkan adalah keselamatan anda”
“aku akan menunggumu di kuil Cheongamsa,aku akan menghubungimu” putra mahkota lalu pergi
Ji Sun mengantar putra mahkota dan dalam hati ia berkata kalau ia sudah tahu jawabannya, yang masih ragu akan jawaban tersebut bukannya dia, tetapi Yang Mulia sendiri.

 
Di hutan bamboo.. Chun dan Ji sedang bermeditasi. Salah satu anggota mereka lalud atang dan member kabar kalau beberapa hari yang lalu mereka mendapat kabar Gwang Taek muncul salah satu di kuil shaolin, namun belum sempat mereka menemukannya, Gwang Taek sudah terlebih dulu menghilang. “kami akan mencarinya lagi”
Chun bergumam kalau ia penasaran apa yang akan dibawa oleh Gwang Taek dari Qing, mendengar tentang Gwang Taek, Ji langsung melangkah pergi
“apakah Cuma aku yang penasaran dengan kedatangan Gwang Taek?” Chun menyindir Ji
Ji pergi menuju markas Hwang, ia lalu berpas pasan dengan Jin Ju
“apa..apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Jin Ju penasaran melihat Ji
Ji hanya diam dan hanya menatap Jin Jud an membuat Ji salah tingkah “ah..tidak pernah ya.. kalau begitu aku minta maaf” Jin Ju lalu pergi.
(Jin Ju adalah anak Ji dan Gwang Taek)
Ji bertemu dengan ayah Jin Ju, ia datang karena sudah setahun ia tidak pernah mendengar kabar dari Jin Ju.
“bagaimana dia?”
“dia tumbuh di lingkungan para bandit, ia benar – benar tidak takut pada apapun” kata Hwang
“tadi aku melihatnya”
“dia baru saja datang”
“anak itu..tumbuuh sehat dan cantik” Ji berterimakasih pada Hwang lalu pergi.
 
Sementara itu,
Dong Soo, Cho Rip dan Yeo Woon menjalankan tugasnya untuk mengawal Ji Sun. Di perjalanan, Dong Soo curi curi pandang ke Ji Sun.
“eh Cho Rip bukannya dia biksu? kenapa memakai hanbok?” kata Dong Soo
“dia mungkin masih pemula, belum menjadi biksu sesungguhnya” Cho Rip jawab seadanya
Dong Soo kesal sendiri, ini adalah misi pertamanya kenapa mereka harus mengawal biksu? “setidaknya kita harus bertemu sekelompok pembunuh!! Aku bisa menunjukkan kekuatanku sebenarnya”
“kalau kita bertemu dengan sekelompok pembunuh dengan kemampuanmu sekarang, maka kau benar – beanr akan mati” Cho Rip meledek
“haaa..sial kau! Kau tidak tau? Aku ini ahli pedang nomor sa…. (melirik Yeo Won) nomor 2 di negeri ini!”
“kalau begitu aku nomor 3! Hahahah”
Yeo Woo hanya tersenyum geli melihat kelakuan teman – temannya, sementara Ji Sun diam – diam terus memperhatikan Yeo Woon.
Kelompok pencuri yang ternyata dipimpin oleh Jin Ju mengintai dari jauh.
“wah… lihat itu! Gerombolan pedagang yang baru saja datang dari Qing. 3 gerobak di kawal oleh 20 orang lebih, dan lihat! Ada satu gerobak yang paling banyak pengawalnya… aku rasa ini adalah tangkapan yang bagus!”Jin ju mulai mengatur strategi sendiri
“boss ke 2, kau jangan sembarangan… nanti boss 1 marah. Kita harus mendengarkan boss 1” kata anak buahnya
“ah sudahlah! Kau ikuti saja aku!”
Yeo Woon merasa ada yang aneh, ia lalu menyuruh semuanya berhenti dan mulai melihat kea rah Jin Ju bersembunyi.


Yeo Woon mulai membidik dan menembakkan panahnya ke arah mereka. Jin Ju and the gank melihat panah itu dan melongo..mereka sontak kaget karena panah itu jatuh tepat di tengah – tengah mereka.
Jin Ju kesal dan membidik balik. Bidikan pertama tepat di depan mata Ji Sun, dan bidikan kedua nyaris mengenai Cho Rip “hopp!” Dong Soo menangkap anak panah itu dengan tangannya
Jin Ju memerintahkan pasukannya untuk menyerang, dan satu persatu pasukan yang bersembunyi di semak keluar dan menyerang.
“hei hei, kau lihat! Aku menangkap anak panah itu dengan tanganku! Hahaha aku hebat kan?” Dong Soo sempat sempatnya
“kau perhatikan saja bandit itu!!!!” Cho Rip tegang
“ta..tapi aku tadi hebat! Aku genius! Hei Woon biarkan aku yang menangani ini,OK?”
“kau jaga saja rombongan” Yeo Woon sibuk menebas para bandit
Dong Soo protes, di tugas pertama ia hanya disuruh berjaga di sekitar rombongan
“Cho Rip ikuti aku!” Yeo Woon lalu memacu kudanya untuk pergi meninggalkan rombongan dan bandit. Mereka lalu dikejar habis – habisan.
Sementara itu, Dae Soong menghadapi gerombolan bandit hingga tuntas dan bertemu dengan pemimpin mereka.
“haa..kupikir aku akan bertemu dengan pria dewasa kali ini” kata Jin Ju
“apa kau bilang? Kau pikir aku anak – anak? Apa kau pernah melihat anak – anak sebesar ini?” Dong Soo protes habis – habisan
Dong Soo pamer kalau dia bisa makan 3000 mangkuk nasi lebih banyak dari Jin Ju dan bisa berjalan 1000mil eh tidak! 10.000mil lebih jauh.
“tidak ada yang bisa kau banggakan dari angka umurmu?”
“kalau kau lebih baik dariku, terus kenapa kau mencuri?” Dong Soo meledek
Mereka lalu bertarung, Jin Ju lalu melihat rombongannya sudah jauh mengejar Yeo Woon. “ah, aku tidak punya waktu bermain denganmu” Jin Ju lalu melemparkan bom asap dan kabur.
“hei mau kemana kau” Dong Soo sambil batuk – batuk mengejar Jin Ju.
Sementara itu, kelompok bandit makin mendekati Yeo Woon dan Cho Rip. Yeo Woon lalu berbalik arah dan bertarung dengan bandit itu, Ji Sun hanya memandanginya (well… Yeo Woon tak terkalahkan).
Jin ju dan beberapa orang menyusul, Yeo Woon lalu berbalik lagi kea rah Cho Rip. Masalah terjadi, kereta tersangkut dan tidak bisa bergerak sementara kelompok bandit sudah di depan mata.
Sementara itu di istana, 
Raja bertemu dengan duta dari Qing. Ia merasa tersinggung karena akhir – akhir ini putra mahkota seperti mengadakan inspeksi dan mengadakan pelatihan militer di perbatasan.  
Raja sangat kesal dan menemui putra mahkota. Ia bahkan hampir melempari putra mahkota “kau masih mau membuat harga diriku jatuh di hadapan duta Qing?”
Putra mahkota hanya diam, “aku akan menurunkan pangkat pengikutmu” Raja mengancam
“jangan lakukan itu abamama, akulah yang pantas dihukum bukan mereka”
“kau yang memulainya! Aku tidak terima alasan!” raja kesal dan sekaligus khawatir kalau Noron dan perwakilan Qing mulai meragukan kemampuan putra mahkota sebagai penerus Raja.
Balik lagi ke medan pertarungan…
Kelompok bandit berhasil menyusul dan kaget kaget karena isi kereta sudah hilang, ternyata Ji Sun sudah kabur bersama Yeo Woon.
Jin Ju kesal dan menyuruh anggotanya untuk mengikutinya,
“hoii..mau kemana kalian?” dari belakang Dong Soo muncul. Dong Soo dan Jin Ju mulai berdebat lagi dan bertarung. Tiba – tiba mereka dikagetkan oleh orang tua yang tiba – tiba muncul.
Orangtua itu adalah Gwang Taek!!
“hei orangtua, pergilah dan serahkan tasmu. Jika kau ingin selamat” salah satu bandit menggertak.
Secepat kilat dan akurat Gwang Taek melumpuhkan seluruh bandit hanya dengan sebuah tag nama. Dong Soo – Cho Rip – Jin Ju hanya melongo.

Jin ju pergi mengejar Yeo Woon namun Dong Soo menolak pergi mengejar juga. Ia malah emnantang Gwang Taek bertarung.
“wah..itu tadi tehnik yang aneh orangtua!”
“kenapa? Kau mau belajar? Ini adalah..tehnik… tag nama”
Dong Soo malah tertawa dan mengarahkan pedangnya ke arah Gwang Taek. “kau tidak tahu? Namaku adalah..” belum sempat Dong Soo memperkenalkan nama :p ia langsung dilumpuhkan oleh Gwang Taek dan pedangnya direbut dan diarahkan ke lehernya.
“ini pedang yang bagus” kata Gwang Taek, Dong Soo gemetaran, apalagi Cho Rip yang daritadi jadi penonton.
“tapi mana ada pedang bagus yang digunakan untuk membunuh, matamu tidak memancarkan sinar membunuh” Gwang Taek lalu mengembalikan pedang Dong Soo dan pergi.
Cho Rip mengajak Dong Soo pergi menyusul Woon, Dong Soo emnolak malah mengejar Gwang Taek.
Sementara itu, Woon masih dalam pelariannya. Diam – diam Ji Sun terpesona dengannya. Tiba – tiba ada yang memanah mereka berdua dan membuat mereka terjatuh.
Woon membantu Ji Sun berdiri dan ia kaget melihat ada tattoo di leher Ji Sun.
“sejak usia 7 tahun, laki – laki dan perempuan harus dipisahkan” kata Jin Ju meledek “keterlaluan sekali kalian melakukan hal itu di siang bolong begini”
“apa kalian tdiak bisa meninggalkan kami berdua dengan tenang” Woon balik menyindir
“haaa.. kau benar benar! Suruh saja wanita itu menyerahkan apa yang ada di tangannya!”
“tetaplah di belakangku” Woon mulai menarik pedangnya
Woon mulai bertarung dan tanpa ia sadari bandit lain sudah hampir menebasnya dari belakang
“nyawa adalah hal yang berharga” Ji Sun lalu melepaskan anak panahnya kea rah bandit tersebut. Hal ini lumayan membuat Woon tercengang
“turunkan panahmu!” Jin Ju dan Ji Sun saling membidikkan panah ke arah masing – masing
Tiba – tiba ada bunyi siulan yang merupakan tanda atau sinyal agar Jin Ju menarik pasukannya mundur “ah sial! Siapa lagi yang mengadu ke boss besar?” Jin Ju lalu pergi.
Sementara itu, Gwang taek berpas – pasan dengan polisi yang memeriksa TKP.
“apa aku bisa memeriksa identitasmu?”
“aku adalah tabib yang tinggal digunung” kata Gwang Taek memperlihatkan tag namanya
Gwang Taek lalu pergi, tetap saja ia masih diikuti oleh Dong Soo dan Cho Rip.
“sepertinya..nama itu tidak asing” gumam kepala polisi.
Di hutan, Ji Sun berterimakasih pada Woon, Woon hanya bilang bukan apa – apa karena ini adalah tugasnya.
Malam sudah tiba, Gwang Taek menuju ke arah air terjun.. tempat ia meninggalkan baby Dong Soo dulu.
“apa kalian mengikutiku seperti tikus?” Gwang Taek melihat ke arah Dong Soo
“kalian anak kecil yang tidak tau apa – apa”
“anak kecil apanya? Tahun ini kami sudah 20 tahun!” Dong Soo kesal
Ia lalu minta duel dengan Gwang Taek. “apa kau juga?” Gwang taek melirik Cho rip.
“tidak..aku hanya menonton”
Dong soo mulai mengeluarkan pedangnya dan Gwang taek mengeluarkan tag namanya.
Hap hap hap! “ah sakit!” Dong Soo habis – habisan dihajar dan kepalanya dijitak
“kau masih anak – anak dan tidak bisa mengontrol diri. Pedang tidak dikendalikan oleh tangan, tapi hati”
Gwang taek tersenyum lalu pergi, Cho rip gemetar dan bilang “kau hebat” sambil menunduk
Cho Rip menghampiri Dong Soo yang masih sibuk mengusap kepalanya yang dijitak. Cho Rip meledek akalu Dong Soo mala mini benar - benar menjadi seorang pecundang “kau ini! Bahkan orangtua peracik obat tersebut mengalahkanmu,ckckckck”
Cho rip lalu mengirimkan burung merpati ke Woon.
 
Di hutan, Woon mendengar suara aneh dan bersiap, ternyata itu merpati kiriman Cho Rip.
Dong Soo dan Cho Rip datang..
Mereka lalu duduk bersama mengelilingi api unggun. Cho Rip ingin memakan daging, namun daging itu direbut Dong Soo “eh geser sedikit” Dong Soo duduk di sebelah Ji Sun dan memberikannya daging
“maaf, ia agak sedikit kekanakan” Woon tidak enak
“kau ini bodoh! Mana ada biksu memakan daging?” Cho Rip lalu merebut daging itu kembali, sedangkan Dong Soo malu bukan main
Ji Sun merasa kedinginan, Dong Soo dengan usaha cari mukanya membuka bajunya dan memberikannya ke Ji Sun,
 
Cho Rip dan Woon hanya diam,
“aku, Baek Dong Soo, hanya takut pada 2 hal.. LAPAR dan HANGAT.” Kata Dong Soo sambil pura – pura senam
“kau ini benar – benar!” Cho Rip lalu melemparkan rompinya pada Dong Soo
Di rumah bordil, lelaki hidung belang utusan Qing bermain hide and seek dengan gisaeng. Salah satu anggota dari Chun masuk dan menodongkan pisau ke leher “aku juga ingin ikut”
Anggota Chun ternyata disuruh oleh Dae Joo untuk menakut – nakuti orang dari Qing itu, dia diberikan upah beberapa emas.
Kembali lagi ke hutan,,
Dong Soo melihat kaku Ji Sun terluka. Ia llau lari ke dalam hutan dan mencari herbal. Ia lalu mengunyah daun dan menempelkannya ke kaki Ji Sun. Cho Rip hanya geleng – geleng dan WOon diam menahan tawa,
Sementara itu di markas Hwang. Hwang habis – habisan memarahi Jin Ju “apa kau bisa menjamin nyawa kawanmu?”
Jin Ju capek mendengar ayahnya mengomel, ia kabur dengan tertawa geli sementara ayahnya berteriak – teriak memanggilnya.
Anggota hwang lainnya sibuk menghitung pendapatan mereka. Mereka bertengkar membagi hasil untuk mereka dan untuk orang miskin (bandit budiman).
Ji Sun melihat tangan Woon terluka, ia lalu membalutnya dengan pita merah. Dong Soo melongo dan berdeham melihatnya. Hahahaa
“Woon a… ayo kita bertarung, sudah lama kita tidak melakukannya”
Mereka lalu memulai pertarungan, hap ! hap! Saling tangkis dan entah kenapa Dong Soo berhenti bergerak, sementara Woonpergi dengan senyum andalannya,
“kau kenapa Dong Soo?” Cho Rip bingung
“Woo..Woon aa.. bisa kau lepas jarum itu?” hahaha ternyata Woon menempelkan jarum akupuntur di tangan Dong Soo.
Ji Sun lalu membantunya dan bilang jarum akupuntur seharusnya untuk mengobati,
Jin Ju bermain bersama anjing piarannya, ia bergumam betapa beruntungnya ank anjing itu memiliki ibu.
Ayahnya lalu datang. Jin Ju curhat kalau ia tadi bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengannya ( Ji ) “apa dia ibuku ya?”
Ayahnya menyuruh Jin Ju untuk berhenti menjadi bandit, ia takut kehilangan satu – satunya putrid kesayangan.
“aku ingin menjadi bandit budiman seperti ayah!” “ayah… ada perwakilan Qing yang menginap di sekitar sini, kita bisa merampoknya”
“uu..dasar bodoh! Sekali kesalahan saja kau bisa mati!”
Paginya..
Ji Sun melihat Dong Soo melengkung kayak udang gara – gara kedinginan, ia hanya tertawa dan menyelimuti Dong Soo dengan baju yang diberikan.
Matanya lalu bertemu mata Woon yang dari tadi melihatnya.
Mereka lalu mengantar Ji Sun ke kuil,
Dong Soo tidak berhenti tersenyum ria mengantar Ji Sun ia bahkan bilang kalau bisa saja Ji Sun akan menjadi istrinya nanti,
“Woon! Lihat! Dia sudah mulai gila” kata Cho Rip
Woon tersenyum andalan lalu pergi
Biksu besar memeriksa kaki Ji Sun, ia heran kenapa Ji Sun menempelkan tumbuhan racun ke lukanya.
Sementara itu, di jalan, Dong Soo memperhatikan dua tumbuhan yang mirip. Ia lalu berteriak “mati aku…” ia sadar kalau yang ia aplikasikan ke kaki Ji Sun adalah racun! Hahahha
Mereka bertiga kembali ke markas dan langsung kena hukuman
Sa Mo menghukum mereka seharian karena gagal dalam misi. “ aku mempercayaimu, tetapi kenapa kau malah seperti berandal dua ini?” Sa Mo kecewa pada Woon
“maaf” Woon hanya bisa berkata begitu.
Dong Soo memang biang kerok, berapa kali ia menurunkan karung yang jadi hukumannya. Putri Dae Pyo, Mi So datang dan mengejek – ejek Dong Soo.
 
Sementara itu di Istana,

Perwakilan Qing menghadap ke Istana dan mengajukan hasil inspeksi mereka, kekecewaan terhadap insiden di rampoknya pedagang mereka.

Putra mahkota tersenyum sinis dan bilang apa yang dilakukan oleh para utusan Qing bukan menginspeksi, tetapi bersenang – senang dengan para Gisaeng di rumah bordil.
Dae Joo (salah satu menteri) malah mencoba menentang perkataan Putra mahkota dan bilang kalau bagaimana bisa para utusan Qing meninggalkan Oh Ha No untuk bermain bersama Gisaeng.
“apa sebenarnya yang ingin kau katakana?” putra mahkota benci basa basi Dae Joo
“bagaimana kalau kita memanfaatkan hal ini membangun bangunan baru untuk para utusan Qing?”
“apa untung kita membangun hal seperti itu untuk engara mahakuasa seperti Qing?”  putra mahkota menatap tajam Dae Joo.
Di gerbang kota, polisi memeriksa seluruh pendatang. Gwang taek lewat dan tak luput dari pemeriksaan. Gwang taek memperlihatkan tag namanya dan dipersilahkan lewat.
Polisi merasa ada yang familiar dengan nama itu, ia lalu melihat daftar nama yang ia punya dan melotot terkejut.
Chun bermeditasi di ruangan gelap, ia masih berusaha memikirkan cara bagaimana cara agar dapat mengalahkan teknik pedang Gwang taek.
In datang dan bilang kalau Gwang Taek sudah ada di Hanyang. “sejak kapan kau tertarik dengan hal ini? Keluar!” Chun menyuruhnya keluar. In kesal dan teriak klau ia akan mengurus hal ini sendiri.
Chun juga mempersilahkan Ji pergi,
“aku tidak perduli dengan berita itu” kata Ji
“kau..sebenarnya bukan aku yang sebenarnya kau perhatikan” kata Chun

Di hutan bamboo.. Ji duduk sendirian, menangis dan mengingat masa lalu..
Chun dan Ji berdebat. Ji sudah tidak mau bergabung dengan kelompok Chun “aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darah lagi, aku sudah mengubah pikiranku”
“siapa yang mengubah ekspresi dimatamu?” Chun kesal 
Di bukit, Ji berjalan oenuh senyuman dan kebahagiaan bersama Gwang Taek. Mereka saling berpelukan dan tidak tahu kalau Chun melihat dari kejauhan.
Ji lalu bertemu dengan Chun, ia malah berlutut dan membuat Chun berteriak kesal. (CINTA SEGITIGA rupanya)

Ji dan Gwang taek berniat pergi, mereka lalu dihadang oleh Chun. Gwang Taek sudah hamper mencabut pedangnya namun Ji memberikan sinyal jangan lukai Chun”
Sekelompok ninja datang dan sepertinya ini dari kelompok mereka. Chun melihat Ji dan menyuruhnya cepat pergi bersama Gwang taek, biar ia yang membereskannya.
Ketua dari ninja itu (mungkin boss besar Chun) melihatnya dengan kecewa, “aku hanya tidak bisa membiarkan seseorang menyentuh Ji), Chun lalu berlutut. 
Ji melepaskan tangan Gwang Taek dan mengarahkan pedang di leher Gwang Taek. “sepertinya ini akhir dari kita”
“apa tidak ada jalan lain?” Gwang taek memohon
Ji pergi begitu saja ke arah Chun yang berlutut,sementara Gwang taek pergi meninggalkannya.
Chun lalu dihukum, Ji datang menemuinya “apa kau benar tidak ingin kembali?”  Tanya Chun. Ji berhenti tanpa ekspresi,tanpa kata.
Balik lagi..
Chun menemui Ji yang duduk sendirian. “hatiku sudah berhenti berdetak sejak lama” kata Chun
Ji lalu berbaring di paha Chun, menutup matanya dan menangis.


Sinopsis by Hyo Rin @mewmewhyorin.blogspot.com
Picture capture by popv @popv.wordpress.com

0 komentar:

Posting Komentar