Sinopsis Warrior Baek Dong Soo episode 8

Kamis, 01 Agustus 2013

Chun datang dan berteriak memanggil Gwang Taek. Sa Mo keluar dan terkejut langsung mengambil kapak
“beraninya kau datang kemari”
“Sa Mo, hentikan”
Gwang Taek dan Chun lalu duduk bersama, “kenapa kau tidak menyapaku duluan setelah tiba di Hanyang, kau malah menemui Dae Woong”
“oh, jadi yang waktu itu adalah Dae Woong(in)? maaf, aku telah menghilangkan lengan tenganmu”
“jika itu aku, apa kau akan melakukan yang sama?” Chun langsung mengeluarkan pedangnya dan menyerang Gwang Taek, untung Gwang Taek sigap dan menangkisnya.
Chun memuji Gwang Taek (iri kaleee), walaupun kehilangan 1 lengannya ia masih menjadi ahli pedang nomor 1. Gwang Taek senyum dan balik menyindir kalau dia masih kalah dari Chun.
“tempat untuk pedangmu masih kosong” terlihat di markas ninja hitam, salah satu tempat pedang memang kosong.
Dong Soo kembali dari kuil, habis mengintip Putra Mahkota dan Ji Sun

Chun dengan kondisi setengah mabok (memang terlihat selalu begitu) pamit pulang dan bilang pada Gwang Taek untuk segera membersihkan pedangnya, “lalu temui aku”
Yeo Woon melihat Chun pergi, dan bingung ada hubungan apa ia dengan Gwang Taek.
Sa Moo muncul dan mengomeli Gwang Taek, “hyung-nim!! Kenapa kau membiarkannya pergi hidup – hidup????”
“sudahlah, kali ini dia datang bukan untuk mencari keributan”
Dong Soo bertemu Chun di tengah jalan, Chun mendekat dan memandanginya.. bahkan meniup muka Dong Soo.
Dong Soo tidak bisa berkata apa – apa, ia gugup dan terlihat ketakutan. Saat Chun pergi ia bergumam “bahkan melihatnya aku begini, aku.. seorang Baek Dong Soo” sambil memegangi dadanya,
Entah Chun dengar atau tidak Dong Soo meneyebutkan namanya, Chun sempat berhenti.
Jin Ju berjalan sendirian sabil memegang botol minuman ditangannya, ia tidak sengaja bertemu dengan Yeo Woon. Yeo Woon berjalan mengendap – endap dan sangat mencurigakan.
Jin Ju mengikutinya dan melihat kalau Yeo Woon bertemu dengan Chun, ia berusaha mendengarkan percakapan mereka “haissss..apa yang mereka bicarakan?, ia lalu melihat pedang Chun dan ada initial disitu, “Chun?”
Yeo Woon member hormat, kali ini dia menghadap karena ingin tahu siapa pembunuh ayahnya sebenarnya.
“walaupun ia hamper membunuhku, ayah tetap saja seorang ayah. Kumohon beritahu aku”
Chun tertawa, Yeo Woon memohon terus “tuan bilang ia adalah orang yang tidak dapat kuraih, lebih tinggi dari langit. Apakah itu.. Putra Mahkota?”
“mm.. benar” Chun ngomong ngambang
“mengapa Putra Mahkota membunuhnya?”
“sederhana saja, majikan membunuh anjing pemburunya yang sudah tidak berguna lagi”
“tidak mungkin Putra Mahkota membunuhnya dengan tangan sendiri, siapa? Siapa yang menusukkan pedang ke ayahku, jangan bilang kalau itu adalah pemilik pedang suci? (Gwang Taek)”
“kau benar”
Yeo Woon menangis dan aura membunuh di matanya berkobar.
Putra Mahkota berjalan dengan pengawalnya, dari tadi ia merasa ada yang mengikuti mereka. Ia lalu memberikan kode untuk mencari orang tersebut. Di balik semak, si orange bersembunyi dan bersiap dengan pedangnya.
HAPP! Pengawal kehilangan jejaknya, ia berhasil kabur.
Di tempat lain, Dong Soo dan Cho Rip membicarakan si pemilik pedang sakti. Dong Soo sangat bersemangat dan bilang kalau Gwang Taek datang jauh – jauh kemari pasti hanya ingin bertemu dengannya. HAHAHAHAA
“kau tau… si ahli obat itu… dia si pemilik pedang sakti!! Kim Gwang Taek” kata Cho Rip sambil memperagakan teknik tag nama
Dong Soo tertawa dan tidak habis piker kalau ahli obat itu adalah Gwang Taek.
“hoiii” Jin Ju datang menyaa mereka
Cho Rip bingung, bukannya Dong Soo dan Jin Ju bermusuhan?
“hei.. dimana laki laki dengan wajah kecil yang tampan itu?” Jin Ju ingin memastikan
“disini..hanya aku yang tampan disini” Dong Soo pede luar biasa
“bukan kamu! Tapi Woon!!” Cho Rip membenarkan! Hahahha
“oo..namanya Yeo Woon”
“ah sudah – sudah! Ayo minum saja!” Dong Soo mengalihkan pembicaraan.
Mereka minum sampai teller
Yeo Woon lewat dan melihat mereka, ia memilih pergi kembali ke rumah. Ia lalu berpas – pasan dengan Gwang Taek dan Sa Mo.
“dimana Dong Soo dan Cho Rip?”
“mereka minum – minum”
“aku akan pergi mencari Dong Soo, bisa – bisanya mereka mabuk di usia seperti ini” Sa Moo pergi mencari mereka, meninggalkan Gwang Taek dan Yeo Woon
Gwang Taek menebak kalau Yeo Woon pasti anak Cho Sang. Yeo Woon memberi salam dan mengiyakan. Dalam hatinya ia ingin sekali menebas kepala Gwang Taek sekarang juga. Hanya 1 ½ langkah.. aku sudah bisa menebasnya. Ya! Aku harus melakukannya. Kata Yeo Woon dalam hati sambil bersiap mencabut pedangnya.
Gwang Taek melihat matanya dan bilang kalau matanya memancarkan aura membunuh “kau..apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?, ia lalu pergi.

Dong Soo dan Cho Rip sudah terkapar… Jin Ju tersenyumda n memperhatikan Dong Soo. Ia lalu mengingat kembali masa kecil mereka. Jin Ju ingin memegang kening Dong Soo, namun Sa Moo tiba – tiba muncul.
“siapa kau?”
Jin Ju lalu member hormat dan memperkenalkan dirinya, “aku Hwang Jin Ju”, mendengar itu Sa Mo terkejut dan senang “wah..kau sudah tumbuh dewasa dan cantik. Kau anak Jin Gi yang mengejar – ngejar Dong Soo waktu kecil kan?” hahahaa
“mengejar – ngejar? Heiiisss.. paman!”ia lalu pamit pergi
Jang Mi dengan tersipu menemui Sa Mo.. ia lalu memberikan Sa Moo baju hasil jahitannya “aku..aku membuatkanmu baju”, Sa Moo malu – malu.. Jang Mi juga, saking tidak tahannya ia malah kabur.
Gwang Taek dan Sa Moo melihat Dong Soo yang sudah tepar. Sa Moo lalu menggunakan baju dari Jang Mi untuk menyelimuti Dong Soo.
“bisa – bisanya aku tida mengenalinya dari awal” Gwang Taek tampak kecewa, Sa Moo hanya berdiri di pojok,nyaris menangis.
“terimakasih..terimakasih karena tetap hidup” Gwang Taek menyentuh hangat Dong Soo.
Paginya, Dong Soo bangun dan melihat baju di badannya “apa ini?” ia lalu membangunkan Cho Rip. Cho Rip jatuh dan kaget, ia setengah sadar berdiri dan memperagakan silatnya! Hahahha
Gwang Taek berjalan ke bukit dan dari belakang Yeo Woon mengikutinya dari belakang. Gwang Taek mengunjungi kuburan ayah Yeo Woon, ia member salam dan bilang kalau Yeo Woon sudah tumbuh dewasa dan sangat mirip dengannya dulu. “aku mungkin tidak akan berkunjung lagi”
Pengawal menghadap Putra Mahkota dan bilang ia kehilangan jejak dari orang yang mengikuti mereka. “kita tidak bisa meninggalkan Ji Sun di kuil, disana berbahaya”. Ia juga bilang kalau pasukan yang dilatih Sa Moo (Dong Soo dkk) tumbuh sesuai harapan mereka.
Si orange juga melapor ke Dae Ju, ia bilang kalau Putra Mahkota selama ini pergi menemui biksu muda wanita. Dae Ju tertawa, apa Putra Mahkota mau cari selir? Ia lalu menyuruh orangnya untuk mencari asal – usul Ji Sun.
Dong Soo,Cho Rip dan Yeo Woon sampai di kuil. Dong Soo memohon pada mereka untuk menemaninya “ini yang terakhir, sungguh! Tunggu disini ya! Jangan pergi!!!”Dong Soo bicara ngawur lagi “apa kau ingin melihat calon IPAR mu dalam bahaya (Ji Sun)?”
“ipar??” Cho Rip nyaris tersedak! hahaha
Dong Soo pergi ke dalam kuil dan melanjutkan pengintaiannya terhadap Putra Mahkota.
“untuk apa Dong Soo menyuruh kita kemari, dia pasti menyuruh kita untuk berjaga”
“kita lihat saja” hahaha Yeo Woon tertawa
Putra Mahkota berbincang dengan Ji Sun. Ia lalu memberikan jawabannya, antara buku atau Ji Sun.
“aku tentu saja memilihmu, tapi bukan sebagai wanita…” belum selesai Putra Mahkota berbicara, Ji Sun lalu memotong, baginya jawaban itu sudah cukup.
Ia lalu membelakangi Putra Mahkota dan mulai membuka bajunya, Putra Mahkota kaget dan merunduk “hentikan”.
Mata Putra Mahkota membelalak ketika melihat sekujur punggung Ji Sun sudah di tattoo, Ji Sun mengeluarkan dan bilang ini adalah takdirnya, menjaga tubuhnya agar tidak hancur dan terbunuh.
“10 tahun lalu, ayahku mentattoonya dan merobek lalu membakar peta itu”
“kita sama.. kita bagaikan burung dalam sangkar, kehilangan kebebasan”
Ji Sun lalu memasang bajunya lagi, belum sempat ia memasang, Dong Soo lalu mendobrak pintu dan kaget melihat Putra Mahkota dan Ji Sun (well, siapa yang gak kaget dan salah paham)
Dong Soo ingin masuk, namun pengawal menodongkan pedangnya. Pengawal lalu menggiringnya keluar dan Dong Soo dikepung. Dong Soo kesal dan mengancam agar pengawal tidak membuatnya marah, 
Putra Mahkota menyuruh pengawalnya utnuk menurunkan pedang, Dong Soo makin bertindak dan menyuruh Putra Mahkota pergi, Putra Mahkota balik menyuruh Dong Soo pergi.
“aku punya teman yang akan menolongku disana!” Dong Soo menunjuk ke arah gerbang tapi Yeo Woon dan Cho Rip hilang! Hahahha
Putra Mahkota tertawa dan bilang kalau Dong Soo orang gila yang coba menakutinya, Dong Soo makin salah tingkah.. untung saja Yeo Woon dan Cho Rip muncul.
Mereka lalu bertarung habis – habisan. Putra Mahkota memperhatikan cara Yeo Woon bertarng dan terpukau. “hentikan!” Putra Mahkota lalu menyuruh pengawalnya berhenti, tepat hamper menebas tangan Dong Soo yang coba melindungi Yeo Woon.
Yeo Woon melihat ke arah Putra Mahkota dan menyadari pedang itu adalah pedang milik kerajaan, ia kontan berlutut “Yang Mulia”, mendengar itu Cho Rip tanpa basa basi juga berlutu, kecuali Dong Soo tentunya!
Dong Soo tertawa dan tdak percaya orang yang ia sangka mesum di depannya adalah Putra Mahkota. Ia melirik pengawal dan temannya yang seolah memberikan kode untunknya segera berlutut.
Dengan ogah – ogahan dan masih ngoceh ia berlutut. HAHAHAAHAHA
“aii! Tapi kenapa Putra Mahkota datang malam – malam ke tempat wanita?
“lalu kenapa kau berlutut?”
“ngg…tidak. Hanya saja, itu mungkin..” Dong Soo tidak tau mau bilang apa,Dong Soo masih tidak percaya lalu bertanya apakah Putra Mahkota benar – benar Putra Mahkota? Terus mengapa ia melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan Putra Mahkota.
“kau benar..ini tidak sopan”
Mendengar itu Dong Soo lalu berdiri dan berteriak sambil menunjuk – nunjuk Putra Mahkota, “hei, berdiri! Dia bukan Putra Mahkota! Ayo berdiri!!” namun Yeo Woon dan Cho Rip masih berlutut
Dong Soo masih ngoceh kalau Putra Mahkota sangat sibuk tiap hari, bahkan melihatnya di istana saja susah.
Putra Mahkota senyum gelid an berbicara formal layaknya keluarga istana “ya benar, aku sangat sibuk”
Dong Soo masih tolak pinggang sebentar… “si..sibuk?” ia bingung…, pengawal lalu meneriakinya untuk berlutut.
“Yang Mulia… maafkan aku, aku sudah berkata tidak sopan, ampuni aku Yang Mulia” kali ini Dong Soo memohon habis – habisan dan membuat Putra Mahkota makin tertawa
“aku akan menyerahkan hidupku padamu, ampuni aku Yang Mulia”
Sementara Dong Soo masih memohon, mata Yeo Woon yang masih menebak – nebak siapa yang membunuh ayahnya.. diam – diam menarik pedangnya.
Yang Mulia lalu menanyakan nama Dong Soo, Dong Soo lalu menyebutkan namanya. Mendengar itu, Putra Mahkota terkejut “Dong Soo?”
“apa Yang Mulia mengenalku?”Dong Soo lalu mencoba mengingat wajah Putra Mahkota, ia lalu ingat kalau ia pernah menolong Putra Mahkota yang tercebur ke sumur. “haaa.. kau eh! Anda orang waktu itu kan?”
“hahaha kalau begitu.. kau pasti adalah Yeo Woon dan Cho Rip,
“ya.. Yang Mulia” kata mereka
Putra Mahkota lalu mendekati mereka bertiga dan dengan menaruh harapan ia bersyukur mereka bertiga tumbuh dewasa “kalian bertiga akan menjadi cahaya Joseon di masa depan”
Mereka bertiga lalu pamit pulang pada Ji Sun, agak sedikit canggung.. apalagi Dong Soo yang hatinya serasa remuk. HAHAHAHA
Mereka bertiga minum – minum lagi, Cho Rip mencoba menhentikan Dong Soo dan Yeo Woon yang tidak berhenti minum dan mabuk. Mereka hari ini mendapat masalah yang rumit.
Ketika mereka semua tertidur, Yeo Woon melihat ada bayangan. Ia langsung dengan sigap mengambil sesuatu dan siap menyerang leher orang tsb. Yang ternyata Gwang Taek.
“kamu dirancang untuk membunuh” kata Gwang Taek menatap Yeo Woon yang hamper mati kesal.
Gwang Taek bercerita kalau ia seharian dimakam ayah Yeo Woon, mereka dulu adalah teman layakanya saudara…Gwang Taek, ayah Yeo Woon dan ayah Dong Soo. Dalam Yeo Woon kesal, ia bergumam kenapa Gwang Taek membunuh ayahnya.
Yeo Woon yang tidak bisa menahan amarahnya memastikan diri untuk memenggal Gwang Taek mala mini, ia lalu bersiap menarik pedangnya. “apa kau yakin?” Gwang Taek menghentikan langkah Yeo Woon
“jika kau akan menggunakan pedang, maka kau harus yakin”, tak terasa air mata Yeo Woon jatuh.
“apa maksud anda?”
“lidah memang bisa berbohong, tapi tidak dengan mata”, Gwang Taek juga bilang kalau ia diberi tanggung jawab oleh ayah Yeo Woon untuk menjaganya.
Yeo Woon tidak tahan, ia lalu pamit dan bilang mau pergi ke suatu tempat.
Gwang Taek lalu melihat Dong Soo yang tidur pulas, ia memukul Dong Soo namun tak disangka Dong Soo malah menghindar! Padahal ia tertidur.. HAHAHAHAHA Gwang Taek tertawa keras.
Jin Ju bermain sendiri di kamarnya, ayahnya lalu datang dan mengganggunya. Ayahnya lalu melihat karung yang ternyata curian dari Mo Hwa Ra.
Ayahnya mengecek isi karung dan melihat perkamen merah, ia lalu terkejut dan meneriaki Jin Ju, Jin Ju kabur sambil berteriak. HAHAHA
Sementara itu, Utusan Qing panic karena perkamen merah yang ternyata surat dari Kaisar Qing hilang, ia lalu meminta bantuan pada Dae Ju untuk mencarinya.
Yeo Woon ternyata pergi ke markas Chun, dengan gaya tidak karuan ia berlutut dan memohon agar Chun memberitahu siapa yang membunuh ayahnya.
Ji terlihat kaget, sementara Chun masih tutup mulut, “apa gunanya kau tau?”
Yeo Woon tetap memohon, Chun menyerah dan bilang kalau yang membunuh Cho Sang.. adalah Yeo Woon sendiri “kau orangnya”
Yeo Woon terkejut dan ingatan tentang Yeo Woon kecil di tengah hujan terlihat menikan ayahnya sendiri. “aku adalah korban pertama dan terakhirmu” kata Cho Sang sambil menahan rasa sakitnya.
Yeo Woon menangis, Chun lalu bilang kalau Yeo Woon menghpaus memori itu dari otaknya dan mengunci insting membunuhnya karena ia berusaha melarikan diri dari jiwa pembunuh.
Yeo Woon menodongkan pedangnya ke lehernya sendiri dan berniat bunuh diri, Chun juga menodongkan pedangnya,
“aku bahkan tidak mampu membunuh diriku sendiri” Yeo Woon menangis hebat
“itulah pembunuh. Kau sudah kuberitahu apa beda antara pembunuh dan prajurit kan? Mereka sama – sama membunuh, namun pembunuh..adalah orang yang menentukan hidup orang lain” Chun lalu menyuruh Yeo Woon berdiri.
“aku mengerti sekarang, maafkan aku”
“kau boleh saja merunduk, tapi jangan kehilangan focus”
Dae Ju menemui Ji dan bilang kalau ia ingin menemui Chun. Ji mengatakan urusan perkamen itu tidak perlu membutuhkan bantuan Chun, cukup dia saja, “kau haru ingat, aku salah satu pemimpin dari ninja hitam” Ji mengancam
“aku dengar pencuri itu adalah Jin Gi, haaahh..dia salah satu ahli pedang”
Dae Ju lalu menawarkan pada Ji sejumlah uang kalau Ji berhasil membawa Perkamen itu, atau membawa perkamen lengkap dengan kepala Jin Gi.
“kau diam saja dan percaya padaku”kata Ji
Sementara itu, Chun menerima surat dari Dae Ju kalau Ji sedang bergerak sendiri untuk menangkap Jin Gi, “Jin Gi?”
Jin gi membaca isi perkamen merah (Chilk Seo), tiba – tiba pisau misterius hamper menebasnya. Ia lalu keluar dan memotong sebuah pedang.
Jin gi berjalan dan menemui Ji, ia lalu menyerahkan bungkusan hitam.
“benda itu berbahaya, hancurkan!” Ji menyuruh
“tapi..Chik Seo menyangkut nyawa Putra Mahkota”
“ini demi keselamatan kau dan putrimu”
Ji lalu pergi dan tiba – tiba berhenti, “siapa… nama putrimu?”
“Jin Ju…Hwang Jin Ju”

Ji pergi, tanpa sepengetahuannya, Chun memata – matainya.
Keesokan harinya,
Ji Sun dijemput oleh pengawal Putra Mahkota dan naik tandu menuju Istana.
Sementara itu, Dong Soo dkk pergi menemui Sa Moo. Ia melihat ada Gwang Taek disana
“siapa dia?” sambil menunjuk nunjuk Gwang Taek tidak sopan
Gwang Taek berbalik dan tersenyum, Dong Soo kaget dan bilang kenapa si ahli obat bisa ada di sini??
Sa Moo memukulnya dan menyuruh mereka bertiga berlutut “beri salam, dia adalah paman kalian”
Sa Moo menjelaskan kalau mulai sekarang Gwang Taek yang akan melatih mereka, Dong Soo sombong dan bilang kalau teknik miliknya sudah sangat hebat, Gwang Taek tertawa dan langsung spontan memukul ingin memukul kepala Dong Soo pakai kayu.
“hoooooooo!!!” Dong Soo menghentikannya, dan mulai pamer sama temannya! Hahahaha Dong Soo sang penangkap pedang!
Dong Soo lalu duel melawan Gwang Taek, Dong Soo menampilkan tekniknya yang lumayan hebat.. namun berhasil dijatuhkan oleh Gwang Taek “teknikmu ini memiliki kelemahan di kaki, kau harus lebih menyeimbangkan diri”
Sa Moo datang “bagamana?”
“dia luar biasa” kata Gwang Taek lalu mengulurkan tangannya, membantu Dong Soo berdiri.
Dong Soo dkk. Pamit pada Jang Mi, mereka sekarang akan ke istana. Jang Mi terharu…
Jang Mi lalu melihat baju Dong Soo, “bukankah itu baju yang….” Jang Mi kesal melihat Sa Moo
Gwang Taek tertawa melihat mereka dan bilang mereka berdua cocok. HAHAHAHA
Mereka berjalan menuju Istana dengan senyum di wajah mereka, Dong Soo yang memang bawel tidak berhenti membanggkan diri “aku..Baek Dong Soo akhirnya bisa ke istana!!!” suaranya yang kerasa ternyata di dengar oleh Ji Sun yang juga menuju istana dan kebetulan berbarengan dengan mereka.
Sesampainya di istana, mereka berganti kostum dan disuruh menunggu oleh Seo Wong.
“aku merasa aneh dengan baju ini” Dong Soo
“aku juga.. tapi Yeo Woon terlihat keren”
Mereka lalu mendengar suara orang sedang latihan. “waahhh” kata Dong Soo ketika melihat sekompi calon prajurit latihan
“kidah sudah mempelajari teknik ini waktu kecil” Dong Soo bicara ke Cho Rip
“tapi mereka lumayan” kata Yeo Woon
“apa kita harus latihan dengan anak – anak?”
Salah satu dari trainee mendengarnya dan kesal (ponakannya Dong Ju, Myeong Ju), “apa kau bilang?”
“anak..anak…” Cho Rip menambahi sambil meledek.
Trainee kesal dan mengepung mereka bertiga. Dong Soo juga gak mau kalah dan ikut meladeni “kurasa – rasa kau akan membuat masalah hari ini” kata Dong Soo ke Cho Rip
“kau juga!” kata Cho Rip balik.
Dong Soo dan para Trainee berhadapan dan beberapa Trainee berhasil dilumpuhkan, Myeong Ju kesal dan menyuruh temannya untuk menutup gerbang,
“kalian akan mati !!”
Yeo Woon melempar pedangnya ke Cho Rip dan bergabung bersama Dong Soo.
“membereskan mereka satu per satu lumayan merepotkan, bagaimana kalau kita selesaikan sekaligus??” kata Dong Soo
Yeo Woon – Dong Soo – Cho Rip lalu bertarung dengan para trainee.
(well, baru masuk sudah cari rebut! HAHAHAHAHA)

Sinopsis by Hyo Rin @mewmewhyorin.blogspot.com
Picture taken from popv @http://popv.wordpress.com/

0 komentar:

Posting Komentar