Sinopsis Warrior Baek Dong Soo episode 15

Selasa, 13 Agustus 2013


Dong Soo menghabisi Ninja Hitam Ninja Hitam yang mengawal Ji Sun, ia lalu mendekat ke Ji Sun dan ingin menariknya pergi “aku yang akan mengubah takdirmu, yang harus kau lakukan sekarang hanya melangkah”
Utusan Qing kesal dan meminta para pengawal membereskan Dong Soo. Yeo Woon menyuruh pasukan dan pengawalnya mundur, “biar aku yang menangani ini”
Dong Soo menyuruh Ji Sun lari sejauh mungkin dan jangan menoleh, biar dia yang akan menghadapi Yeo Woon.
Dong Soo : syukurlah kau masih hidup, hari ini kau akan benar akan mati ditanganku
Yeo Woon : itu kalau kau bisa melakukannya, Yeo Woon lalu mengeluarkan pedangnya.

Mereka bertarung sengit, dari jauh Kim Hong Do melukis mereka dengan takjub, sementara Jin Ju melihat mereka dengan khawatir.
Dong Soo berhasil mmebuat Yeo Woon kehilangan keseimbangan dan menggores wajah Yeo Woon, “aku ini pembunuh dan aku bisa membunuhmu kapan saja” Yeo Woon tidak tinggal diam dan hampir saja ia menusuk Dong Soo, tapi dia berhenti,
“kenapa? Kau bisa membunuhku sekarang. Kau berani tapi kau tidak bisa membunuh, kau bukan pembunuh sejati! Aku tau kalau kemampuanku jauh dibawahmu tapi aku tidak menyerah pada takdir bodoh seperti yang kau lakukan”

Gwang Taek dan Sa Mo tiba – tiba datang dan menyuruh Dong Soo dan Yeo Woon berhenti. Dae Woong memanyunkan mulut karena takut melihat Gwang Taek datang. Gwang Taek melihat tajam ke Dae Woong dan mengeluarkan pedangnya, “ee..ini bukan saat yang tepat kau membunuhku, lihat ke sana!”
Anak buah Dae Woong berhasil menangkap Ji Sun, Dong Soo kaget dan berteriak “Ji Sun aa…!!!”
Dae Woong lalu senyum – senyum dan menunjukkan buku Ekspedisi Utara di tangannya, tiba – tiba anak panah api merusak buku itu. Dae Woong berusaha memadamkannya tapi anak panah api tertancap lagi, dan bisa ditebak siapa yang menembakkanya…. Jin Ju!!
Cho Rip juga berhasil membebaskan Ji Sun dari Ninja Hitam. “sekarang kau mau apa?” Gwang Taek melirik Dae Woong.
 
Dae Woong kesal bukan main, ia memilih untuk naik kapal bersama Utusan Qing dan kabur dari Gwang Taek. Yeo Woon terlihat lega, ia tidak berhasil mengawal Ji Sun tapi setidaknya Ji Sun selamat dan ia tidak melanggar perintah Chun.
Di Hoksa Chorong, Chun mengajak Ji berkelana bersamanya dan membunuh semua nama orang hebat yang ditulis di perkamen merah sebelum mereka bertambah tua. “ini akan memakan waktu setahun lebih dan Kim Gwang Taek adalah yang terakhir”
Dong Soo memegang obor, ia meminta semua orang disitu menyaksikan bagaimana dia membakar habis takdir buruk Ji Sun. Dong Soo bertanya apa Ji Sun benar  ingin lepas dari takdir itu atau tidak. Ji Sun mengiyakan walau resiko sakit yang akan ia tahan tidak bisa ditandingi.
“sekarang, buku ekspedisi utara sudah tidak ada lagi di dunia ini, begitu juga dengan tattoo ini!!!”
Dong Soo gemetar dan mencoba menguatkan diri, ia menyulutkan api di punggung Ji Sun sampai kulit Ji Sun melepuh dan tattoo itu lebur. Ji Sun menahan rasa sakitnya dan air matanya, orang – orang di sekitar juga tidak tahan melihat Ji Sun.
Ji Sun pingsan tidak bisa menahan sakit, Dong Soo lalu memapahnya—
Cho Rip Jin Ju dan Dong Soo menemani Ji Sun yang dirawat oleh Gu Hyang dirumahnya. Sementara itu, Yeo Woon juga masih menunggu.. ia memikirkan kembali kata – kata Dong Soo yang berani menghancurkan takdirnya.
Sa Mo memegang kera baju Yeo Woon kuat – kuat dan menumpahkan kekesalannya “kau bocah gila! Sejak kapan kau berubah begini?? Apa ini yang kuajarkan padamu??” Sa Mo menangis dan Yeo Woon hanya menunduk.
“sejak kapan kau menjadi seorang pembunuh?” Gwang Taek bertanya, Yeo Woon lalu kembali ingat saat ia pertama membunuh ayahnya.
Sa Mo tidak membiarkan Yeo Woon pergi, tapi Gwang Taek mengiyakan. “kalau kita biarkan dia tidak akan kembali lagi!”, “biar dia sendiri yang memilih takdirnya” kata Gwang Taek.
Yeo Woon senyum tipis dan pamit “terimakasih tuan”, Dong Soo lalu datang dan agak canggung bicara “Woon aa.. aku tidak perduli kau suka apa tidak, tapi aku akans elalu menunggumu kembali. Tidak peduli kau ingin kembali atau tidak..aku tetap menunggu”
Yeo Woon memacu kudanya, di perjalanan ia dengan ekspresi sedih mengandai andai..andai saja ia punya kesempatan kembali ke Dong Soo dan kawannya, ia pasti akan kembali. (Yeo Woon ini sebenarnya baik, Cuma terpaksa aja jadi pembunuh.. gara – gara si Chun!)
Jin Ju hanya diam melihat Dong Soo dan Yeo Woon, ia lalu berbalik pergi dan ketemu dengan Kim Hd. Mereka saling memiringkan kepala menebak satu sama lain, “aku…” baru saja Hd mau memperkenalkan diri Jin Ju malah pergi,cuek. Hahaha
Yeo Woon balik ke markas dan bertemu dengan Ji. Ji memberitahunya kalau Chun sekarang sudah pergi dan Chun memberikan tanggung jawab penuh atas Ninja Hitam pada Yeo Woon. “sekarang kau adalah pimpinan kami, dia sudah memilihmu menjadi penggantinya di hari pertama kau kesini. Kalau kau menyerah, maka seluruh Ninja Hitam akan mengejarmu hingga ke ujung dunia dan membunuhmu, jika kau ingin bebas satu – satunya cara adalah menjadi penguasa Ninja Hitam”
Yeo Woon bersandar dan bergumam “Dong Soo.. sekarang mustahil bagiku untuk kembali—“
Dong Soo melihat Jin Ju merawat Ji Sun, Jin Ju mengelap keringat Ji Sun dan mengganti kompresnya. Dong Soo berterimakasih padanya dan melihat tangan Ji Sun yang luka. Ia lalu mengobati dan melilitkan perban.
“kalau kau terluka kau harus bilang, kalau luka ini dibiarkan bisa berbahaya” Dong Soo melilitkan perban
Jin Ju diam dan melihat Dong Soo mengobatinya, ia bergumam sendiri kalau ia sangat sakit karena Dong Soo. (cemburu)

Jin Ju pulang dan Hong Do ternyata mengikutinya ^^. Sementara itu, Dong Soo melihat ke kamar Ji Sun, ia berjanji akan menjadi lebih kuat dan tidak akan membiarkan orang yang ias ayangi terluka lagi.
Dong Soo ketiduran menunggui Ji Sun. Ji Sun siuman dan melihat Dong Soo diam – diam, ia berterimakasih untuk Dong Soo yang berani mengambil langkah untuknya.
Keesokan harinya, Dong Soo menggendong Ji Sun pulang ke rumah Sa Mo.
Gu Hyang melapor ke Yeo Woon kalau Ji Sun sudah siuman dan lukanya menimbulkan bekas, namun ini lebih baik daripada harus menanggung tattoo itu seumur hidupnya “sekarang hidup biksu itu sudah tidak bahaya lagi”, Yeo Woon bicara sendiri, bagaimana kalau ia menjadi Dong Soo, apakah ia juga mampu membakar tattoo itu?
Dong Soo memohon pada Gwang Taek agar mengajarkan ilmu beladirinya, Gwang Taek mengiyakan dan akan menjadikan Dong Soo lebih hebat darinya, Dong Soo berlutut dan memangilnya “Guru”
 
Sementara itu, Jin Ju yang sepertinya sudah menyerah pada cintanya ^^ memesan minuman pada Jang Mi. Hd tiba – tiba datang dan sok asik duduk dekat Jin Ju “tidak ada tempat kosong lagi^^”
Mereka minum bersama dan mulai pusing, Hd melihat – lihat wajah Jin Ju dan memujinya karena Jin Ju sangat cantik. Hahaha, Jin Ju heran, “apa kau tidak salah??”
Dae Ju tidak menyangka Yeo Woon bisa jadi ketua Ninja Hitam dan ia meragukan Yeo Woon walau kemampuannya memang hebat. Yeo Woon senyum sinis dan memperingatkan Dae Ju kalau ia sekarang adalah ketua Ninja Hitam dan sebaiknya Dae Ju menjaga bicaranya. 
Dae Ju kesal dan kontan si orange langsung menodongkan pedangnya. “tuan sendiri yang pernah bilang kan? Kalau seseorang harus menjadi gunung yang musthail di daki didepan orang yang lemah. Dan sekarang aku akan menjadi gunung.” Yeo Woon lalu pergi
“ si harimau (Chun) sedang pergi, dan rubah (Yeo Woon) berkuasa, tapi tetap saja rubah adalah rubah..tidak akan berubah menjadi harimau”
Raja sangat terkesan melihat pangeran yang mampu menguasai buku Konfisus klasik. Ia lalu memberikan pangeran sebuah pertanyaan dan pangeran harus memberikan jawabannya besok pagi. Pertanyaan itu sebuah timbangan…. Timbangan antara Raja – Rakyat – Bangsawa
Pertanyaan itu adalah ide dari ratu dan ayahnya, jawaban dari pertanyaan itu mencerminkan sifat penjawab jawaban. 
Pangeran memutar otak, bagaimana agar timbangan ini bisa setimbang, dimana raja harus diposisikan antara rakyat atau bangaswan. Iya lalu melihat lagi koin dari Gwang Taek, koin peninggalan terakhir dari ayahnya, Putra Mahkota. Pangeran lalu menempatkan raja di rakyat, ia tersenyum 
Untuk latihan pertama, Gwang Taek menyuruh Dong Soo untuk latihan seni berjalan dan keseimbangan sebelum benar – benar menggunkan pedang. “pedang hanyalah alat perpanjangan tanganmu”
Sementara itu, Chun masih berkelana membunuh satu persatu orang yang ada dalam list.
Pangeran memberikan jawaban pada Raja, ia menempatkan raja di tengah timbangan. Raja sangat puas pada cucunya dan bilang kalau sebagai raja memang tidak seharusnya memihak.
Pangeran tersenyum dan meminta maaf karena sepertinya raja salah sangka. Ia lalu memindahkan raja ke Rakyat. “ raja seharusnya menuruti apa yang rakyatnya inginkan”

Raja dan ratu membelalak terkejut. Ratu mengompori kalau Joseon ada karena Raja dan para bangsawan bukan rakyat, dan memperingatkan agar pangeran tidak mengikuti jejak Putra Mahkota. Raja diam dan tidak menyalahkan pangeran, ia hanya terkejut saja.
Dari luar, Dae Ju dan ayah mertua raja tersenyum sinis mendengar jawaban pangeran.
Dae Ju bertemu Gwang Taek di jalan pulang, Dae Ju menuduh Gwang Taek dekat – dekat dengan pangeran karena ada yang ia inginkan. “sebaiknya kau urus saja Baek Dong Soo itu, aku dengar dari peramal kalau hidup anak itu tidak panjang..sama seperti ayahnya.. kau tidak mau tanganmu yang satu lagi hilang kan?” Dae Ju lalu pergi dengan ketawa membahana.
Dong Soo dan Cho Rip mengobrol sambil minum. Cho Rip curhat kalu ia seharusnya tidak disini, karena seeprtinya dia ticak cocok menjadi seorang prajurit. “lariku lambat, aku juga tidak bisa menggunakan panah dan pedang dengan baik”
 
Dong Soo memuji Cho Rip kalau Cho Rip lumayan bagus, “lalu bagaimana dengan Yeo Woon?” kata Cho Rip, mendengar nama Yeo Woon Dong Soo berhenti minum dan bilang mulai sekarang ia tidak mau mendengar namanya lagi. CHo Rip memutuskan akan pulang ke rumah dan melakukan hal yang ia kuasai.. BELAJAR
Gwang Taek mengajak Dong Soo dan Sa Mo bicara bersama. Ia ingin membawa Dong Soo pergi latihan bersamanya di tempat ia pernah latihan pedang bersama ayah Dong Soo dulu. “aku khawatir karena sepertinya Dae Ju selalu mengawasi Dong Soo”
Dong Soo jalan mencari udara segar dan bertemu dengan Ji Sun. Dong Soo memberitahunya kalau ia akan pergi jauh untuk latihan dan mengajak Ji Sun untuk pergi bersamanya.
Ji Sun berterimakasih karena Dong Soo menolongnya, ia tidak ingin ikut dan akan tinggal disini untuk menentukan nasibnya sendiri.
Dong Soo lalu mendekat dan meminta Ji Sun berjanji untuk menunggunya, Ji Sun tersenyum dan bilang ia akan menunggu Dong Soo hingga kembali. SSAHHHHHH!!!! Dong Soo lalu memeluk erat Ji Sun—
Cho Rip masih sempoyongan berjalan dan melihat Dong Soo dan Ji Sun berpelukan. Ia mengucek matanya tidak percaya. “kau lihat apa?” Jin Ju menoleh – noleh, tapi Cho Rip berusaha meNinja Hitamalanginya. (Cho Rip tau kalau Jin Ju suka Dong Soo kali ya..^^). Jin Ju melihat Dong Soo dan Ji Sun, mukanya sedih.
Jin Ju jalan sendirian dan memikirkan kata – kata Cho Rip kalau Dong Soo akan pergi latihan, ia lalu ketemu dengan Ji. Mereka tersenyum— (oke..ini saatnya ibu menemani anak ceweknya yang lagi patah hati ^^)
 
Ji datang subuh – subuh ke tempat Sa Mo dan Jang Mi. Jang Mi kaget karena tau Ji adalah ketua Ninja Hitam. “ma..mau apa kau kesini??”
Ji datang untuk memasak makanan untuk Gwang Taek, Jin Ju juga membuat makanan untuk Dong Soo.
Gwang Taek dan Dong Soo pamit pergi. Jin Ju lalu menemui Dong Soo dan memberikannya bekal. Dong Soo sangat berterimakasih padanya, dan berjalan pergi. Dong Soo tiba – tiba menghentikan langkahnya dan berbalik ke Jin Ju, “mm..tolong kau jaga Ji Sun”, Ji Sun mendengar itu hanya bisa senyum maksa dan bilang kalau Dong Soo harus focus pada lathannya saja, ia akan menemani Ji Sun. (haaa… padahal Jin Ju berharap Dong Soo ngomong apa kek untuk dia! Ssshhh Dong Soo bodoh!!!)

Di istana, para menteri dipimpin Dae Ju emmohon agar pengawal bekas pengawal Putra Mahkota di keluarkan dari istana karena dianggap ikut berhianat. Raja khawtir siapa yang akan melindungi Pangeran kalau begitu, raja lalu bilang ia akan memecat pengawal itu dan akan mengembalikan jabatan jendral Seo Yu Dae. Dae Ju menelan ludah! Hahahha
Di penjara, Yu Dae berlutut berterimakasih pada Raja, ia lalu tertawa terbahak – bahak di depan muka Dae Ju.
Di tempat lain, Chun masih sibuk dengan targetnya sementara Cho Rip pulang ke rumahnya dan member salam pada ayahnya. Ayahnya lalu melemparkannya sebuah ID tag.
Ji Sun berjalan – jalan di pasar dan mencatat informasi tentang barang dan harganya. Hd melihatnya dari kejauhan dan langsung melukis, Jin Ju juga ada dibelakang Ji Sun, mengikutinya.
Ji Sun mencari penjual topi bulu domba tapi sangat sulit menemukannya, Ji Sun tau kalau topi itu sangat popular di Qing tapi sangat jarang di Joseon. Gu Hyang tau gerak gerik Ji Sun lalu melapor ke Yeo Woon kalau Ji Sun mencari topi bulu domba.
Beberapa hari kemudian, Ji Sun akhirnya mendapatkan orang yang menjual topi itu. Ji Sun menanyakan harganya tapi si penjual menolak menerima uang Ji Sun. Ji Sun berterimakasih lalu memberikan perhiasannya. Dari jauh Yeo Woon melihatnya, (well.. ini semua rencana Yeo Woon)
Ji Sun memberitahu Sa Mo dan Jin Gi tentang rencananya utnuk menjual topi bulu domba. Jin Gi berfikir ini ide bagus dan dapat mendatangkan banyak uang, ia lalu menyuruh Jin Ju untuk mencari topi ini di Qing dan membawanya ke Joseon. “aku??” hahhaa Jin Ju awalnya menolak, tapi Jin Gi memaksanya.

Dong Soo dan Gwang Taek sampai di tempat latihan. Gwang Taek menyuruhnya menyiapkan makanan padahal mereka belum sempat istirahat. Dong Soo bergumal dengan asap dan bagaikan ahjumma di kedai, ia menyiapkan makanan untuk Gwang Taek.
Gwang Taek menarik piring penuh daging dan melarang Dong Soo memakannya, padahal Dong Soo tidak bisa hidup tanpa makan daging! Hahhaha
“daging akan membuatmu sulit bergerak!”
Sesudah makan mereka lalu main Sudoku, Gwang taek merasa cuaca sangat panas. Dong Soo lalu mengipasnya..
“angin yang kuat..”,Dong Soo mengambil dua kipas dan mengipas sekuat tenaga
“angin yang sangat kuaaaatt..” Dong Soo lari pergi mengambil kipas raksasa! HAHAHA
Chun bertemu dengan si cendekiawan, ia mulai menyerang dan si cendekiawan ternyata menyimpan kunai bintang di bukunya dan melempari Chun. Chun berhasil menyayat si cendekiawan hingga terjatuh di sungai tapi ia tidak membunuhnya. Chun membiarkannya pergi lalu mencoret nama si cendekiawan itu.
Gwang Taek mulai mengajarkan Dong Soo tekniknya, ia lalu menunjukkan senjata – senjata yang selama ini digunakan untuk melindungi Ji Sun. Gwang Taek berharap Dong Soo bisa menguasai alat – alat itu dan menjadi yang terhebat. Dong Soo berlutut dan berjanji ia pasti akan melakukannya.

 


Sinopsis by Hyo Rin @
Picture taken from virtualvoyage

0 komentar:

Posting Komentar